MBG Senilai Rp 223,5 Triliun: Strategi Intervensi Atau Risiko Distorsi Fiskal?
MBG Rp 223,5 Triliun memicu perdebatan, apakah ini strategi intervensi gizi yang efektif atau justru risiko distorsi fiskal negara?
Program MBG senilai Rp 223,5 Triliun menjadi sorotan publik dan pakar ekonomi. Apakah langkah ini benar-benar memperkuat intervensi gizi atau justru membebani anggaran negara? Simak analisis lengkapnya di Berita dan Tren Bisnis Terbaru.
MBG: Intervensi Gizi Atau Beban Fiskal?
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sejak awal digagas sebagai intervensi negara untuk memperkuat gizi anak dan remaja. Tujuan utamanya adalah meningkatkan kualitas sumber daya manusia secara jangka panjang jika program berjalan konsisten.
Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan adanya ketidakselarasan antara tujuan dan implementasi. Pemberian makanan hanya sekali sehari dengan bahan yang kualitas gizinya dipertanyakan membuat efektivitas program dalam jangka panjang meragukan.
Secara moral dan politik, MBG memang program populer dan mudah diterima publik. Meski begitu, kebijakan publik harus dievaluasi dari sisi logika, efisiensi fiskal, dan konsistensi teori pembangunan, bukan semata niat baik pemerintah.
Lonjakan Anggaran Dan Distribusi Yang Dipertanyakan
Pada 2025, realisasi anggaran MBG mencapai Rp 51,5 triliun untuk 56,13 juta penerima melalui 19.343 SPPG. Tahun 2026, anggaran melonjak menjadi Rp 223,5 triliun dengan target 82,9 juta penerima dan 21.000 SPPG.
Struktur anggaran per porsi ditetapkan Rp 8.000–Rp 10.000, di mana sekitar Rp 5.000 hanya dialokasikan untuk bahan makanan. Sisanya terserap oleh biaya operasional, infrastruktur, sewa fasilitas, dan manajemen SPPG.
Dengan pola ini, hampir setengah belanja publik tidak langsung meningkatkan gizi anak. Ekstrapolasi anggaran menunjukkan Rp 111,75 triliun terserap di luar bahan makanan, berpotensi menjadi surplus vendor tanpa efek produktif nyata bagi ekonomi nasional.
Baca Juga: Rupiah Melemah, Investor Bersikap Hati-Hati Menjelang Pidato Trump
Opportunity Cost Dan Efek Multiplier
Jika Rp 111,75 triliun tersebut dialihkan untuk pembangunan infrastruktur, pemerintah dapat membangun lebih dari 7.450 km jalan baru. Infrastruktur ini meningkatkan konektivitas, menurunkan biaya logistik, dan memperkuat produktivitas jangka panjang.
Alternatif lain, dana ini bisa dialokasikan sebagai bantuan langsung tunai (BLT) untuk 27,9 juta keluarga miskin, dengan Rp 300.000 per kepala keluarga per bulan. Dampak konsumsi rumah tangga akan menciptakan efek pengganda ekonomi lebih tinggi dibandingkan belanja rutin MBG.
Dalam perspektif ekonomi Keynesian, belanja publik efektif jika menciptakan permintaan agregat berulang. Belanja konsumtif rutin, apalagi sebagian besar hanya terserap biaya operasional dan margin vendor, cenderung memiliki multiplier rendah.
Tantangan Efektivitas Dan Kemubaziran
Preferensi anak terhadap menu, variasi selera, dan budaya makan memunculkan risiko kemubaziran. Diperkirakan 20 persen makanan MBG tidak dikonsumsi, yang setara dengan potensi pemborosan Rp 44,7 triliun per tahun.
Selain itu, MBG tidak otomatis memperbaiki prestasi belajar. Tanpa peningkatan kualitas guru, fasilitas sekolah, dan lingkungan belajar, dampaknya terhadap human capital jangka panjang tetap terbatas.
Dalam kerangka pembangunan Todaro, MBG hanya menyentuh dimensi life-sustenance, tetapi tidak meningkatkan self-esteem maupun freedom from servitude, sehingga transformasi struktural ekonomi jangka panjang tetap rendah.
Evaluasi Dan Redesain Kebijakan
Niat baik pemerintah tidak selalu berarti desain kebijakan tepat. Anggaran Rp 223,5 triliun atau 7 persen dari belanja pemerintah pusat menimbulkan pertanyaan soal efektivitas, opportunity cost, dan potensi rent-seeking.
Jika MBG tidak dievaluasi dan disesuaikan, program berisiko menjadi mahal tapi tidak produktif. Setiap rupiah harus diarahkan agar mendorong ekonomi produktif, bukan hanya “mengenyangkan sesaat.”
Oleh karena itu, distribusi, kualitas bahan makanan, dan integrasi MBG dengan investasi pendidikan serta kesehatan primer perlu diperbaiki. Langkah ini memastikan MBG benar-benar mendukung pembangunan sumber daya manusia secara berkelanjutan dan memberi efek ekonomi jangka panjang.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Pertama dari money.kompas.com
- Gambar Kedua dari sahabat.pegadaian.co.id

